skip to main | skip to sidebar

Showing posts with label revitalisasi kearifan. Show all posts
Showing posts with label revitalisasi kearifan. Show all posts

Thursday, November 24, 2011

budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"

0 comments

budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"

budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", terawali dari sebuah Kab. Maros, kota yang menghibahkan diri pada ilalang yang tegak bagai tombak, dan makassar dengan dayung  yang dihampiri gulungan ombak, masa lampau yang sakral ketika "Benti Merrung", (sekarang Bantimurung), dan "Toakala sang " kera putih Bantimurung" masih menandai peristiwa soppa hari itu."cinampeppi wenniE...u pappurakki emmitai mata esso ri eleE", ( malam malam telah datang.... dan kau bagai tak melihat matahari di esoknya)
tombak" passoppa"
Manusia adalah pengada, ungkap Climacus, yang memiliki kesadaran (consciousness). Bukan hanya kesadaran terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, tetapi juga kesadaran terhadap diri sendiri (self-consciousness). Dengan kata lain, kesadaran untuk menentukan hidupnya: ”bagaimana seharusnya hidup” dan ”bagaimana semestinya mati”.tapi mengapa "budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", adalah sebuah pilihan dari keduanya antara hidup juga kematian ?

Jika malam datang dan siang sebelumnya  kau batukan dadaku dengan dendam, aku tak dimana-mana juga tak pada kota yang gelap, aku ruh yang bercerai berai menunggu "soppa" atau melakukan "massoppa" dalam budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"di bawah kolom rumahmu, apakah kau mengenal ini sebelumnya sebab tak ada jejak bahkan sesuatupun yang mampu meraba atau menandai, hanya ususmu saja yang terburai atau lembing tersebut mengena pahamu dan tembus hingga keperut, malam malam gelap.....bayangan kecil dengan pundak memanggul lembing, bayangan yang pergi meninggalkan korbannya usai membalaskan dendam

PERISTIWA MIRIS DI TAHUN-TAHUN AWAL SULAWESI SELATAN  YANG DITANDAI DENGAN ISTILAH  SOPPA', BALAS DENDAM DENGAN MENUSUK POKE/ LEMBING DARI BAWAH KOLOM RUMAH KE ATAS DAN  TERJADI PADA MALAM HARI

Pelaku soppa atau Passoppa berlari meninggalkan korbannya tanpa ada yang mengetahui, sebuah bercak darah memenuhi poke /lembing , yang memantulkan cahaya dari bulan, ah aku tak mengenal ini sebelumnya sebuah badai dalam malam gelap yang seakan memecah langit, suara derak papan rumah panggung yang bobol tertembus tombak selalu diantarai dengan jerit tertahan , 
budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", sangat singkat kematian itu dan sebuah mayat di pagi harinya bersimbah darah kering, suara ah...menggema di udara memulaskan tidur passoppa sebagai bahagia usai dendamnya terbalas.

Seolah kesadaran itu tumbuh belakang hari ”Biar mengalir seperti air,” masyarakat lampau sulsel sudah mengenal istilah ini sebelumnya, atau orang sekarang menyebutnya jawaban diplomatis yang sering kita dengar, lebih bermakna sebagai ”kesahajaan”. Atau, ”ketakberdayaan”? Hidup tidak sesederhana itu, dan soppa 
budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa", menandai sebuah peristiwa balas dendam, kemanakah kau pada malam malam sebelumnya ...aku adalah tombak yang berdenyaran di sekitarmu
------------------------------------------------------------------
Oleh : Kaimuddin Mbck.
Terima kasih pada ayahanda "Kadir Parewe", yang telah menuliskan kisah ini di benakku. juga kepada Orangtua-orang tua kami yang telah menggenapkan cerita "Passoppa " ini.
budaya dendam Bugis Makassar dalam "Soppa"

semangat bahari Bugis Makasar,di relief candi Borobudur ,

1 comments
semangat bahari Bugis Makasar,di relief candi Borobudur ,

Menelusuri jejak sejarah Bugis makassar hingga ke candi Borobudur, sebuah perekaman  peristiwa lampau, ditemukan dalam bentuk relief, 

Identifikasi awal dari sejarah pembuatan relief ini oleh "pelaku budaya tersebut, terkait erat akan keberaadaan huruf tulis lontara,  latar belakang ini menguatkan masyarakat lampau dalam menciptakan relief ini.
sekaitan dengan relief ini "semangat bahari Bugis Makasar,di relief candi Borobudur" dalam "perahu bercadik", oleh arkeologi teranggap sebagai sebuah naskah kuno  kesejarahan yang dikategorikan aspek historiografi tradisional, tetapi hasil tulisan atau naskah tersebut tentu sedikit banyaknya  dipengaruhi oleh alam pikiran penulis naskah atau masyarakatnya, ketika mencocokkan latar belakan sejarah Bugis Makassar, dari sumber aslinya tentang "semangat bahari tersebut, semacam kecenderung menonjolkan  kepercayaan dan mistik yang dimiliki masyarakatnya.(pendapat sementara).

Menjadi sebuah kewajaran sebab tempahan alam kadang mengantarai mereka dengan kekuatan sakti, di dapati dalam kesadaran histiografi di banyak sejarah, nampak dimana-mana  kekuatan sakti tersebut  bisa bekerja secara otomatis, atau diperlukan orang-orang tertentu untuk mengembangkan atau menggerakannya. "klasifikasi magis", kukira, adalah sesuatu  yang ada di alam ini, baik itu makhluk hidup maupun benda-benda mati tumbuh bersama dengan pengertian dan kearifan, menempa mereka.

Sang Baco ket gambar>, ahli sejarah mereka melihat itu sebagai ujud keberadaan dalam "perahu bercadik"semangat bahari Bugis Mksr,di candi Borobudur,

Monday, November 21, 2011

Dari Gedung Ke-Arsip-an : Raja Kejam dari Gowa (Makassar)

0 comments
Dari Gedung ke-Arsip-an : Raja kejam dari Gowa , (Makassar). Lacak jejak menandai "pengalihan tunggal penguasaan atas diri pribadi, pembunuhan dan acara pesta panen raya.

1. Manna taena salana taua ti’ring nibunoji / membunuh tanpa perlu alasan
Latar belakang peristiwa tentang kekejaman raja Gowa XIII “I Tepu Karaeng Daeng Parabbung”, yang membunuhi banyak orang meskipun seseorang itu tidak bersalah, dibawah kepemimpinannya ia memerangi Bone, dan merubah sistim “se’re ata rua raja”, ke pengalihan tunggal penguasaan atas diri pribadi, pendatang asal Jawa dan Melayu ketika itu meninggalkan tanah macassar, dikatakan pula pula dalam Lontara Pattorioloang bahwa semua anak raja melarikan diri , kecuali beberapa diantarannya termasuk karaenga ri Marusu “LoE ri Pakere’, dia adalah seorang raja tua yang tidak mempunyai/ memiliki keturunan. (cat,sementara Crew Budaya Pappaseng Maros).

2.Upacara Musim Panen Akbar di Lipukasi Maros
Menandai peristiwa di tahun 1590-1593, sekaitan dengan Upacara Musim Panen Akbar di Lipukasi Maros.Dalam catatan B.Erkeles, 1897“. Telusur jejak sejarah ini menuai paupau atau berita dari Uak Daming, berkata “ri moteranni mi anjo nia raja battu rate ri Gowa, ni tarai nampa ni buno rateang biseanna tonji…anjo mbunoai saribbattang passusuaanna tonji ni areng……dst.

Tetapi yang menarik dari peristiwa ini adalah “Pesta Panen Raya yang di gelar di Marusu, dengan identifikasi daerah bernama Lipukasi”. Sebuah tanda masa lalu tentang kesuburan sebuah tanah juga sebuah kemajuan terhadap aspek pertanian dari sebuah masa lampau itu, kukira ini terkait dengan banyak hal sacral, misalnya addengka ase lolo, dan mantra-mantra a’lessoro ase..…dst—(Cat. Sementara crew BP Maros)
_______________

Reff : B Erkelens, 1890, op.cit: 7.
Uak Daming dan Ba Colleng Panjallingang
catatan di endapkan oleh : kaimuddin mbck.>" dari Gedung ke-Arsip-an : Raja kejam dari Gowa , (Makassar)

Tuesday, November 8, 2011

kearifan Lokal

1 comments



Kearifan budaya lokal merupakan energi potensial dari sistim pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup di atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan peradaban, sebagai sibgah warisan dalam sejarah budaya masyarakat.Peradaban lampau Bugis Makassar, dengan segala kearifannya, selalu tumbuh secara alami dan menjadi titah yang dititipkan oleh leluhuhur...

Mengantarkanmu gelisah ketika pengejawantahan sipakatau na sipakalebbi terkadang masih serupa coretan tangan yang terpaksa /aku sndiri memaksanya terlihat indah, kita tidak punya pagar betis budaya yg sakral sebagaimana yg dicipta negara Jepang tuk kelanggengan budayanya, materre to sedding pappaseng .....abiasange -abiasa topa palelei, ke-perubahan ini merupakan likaliku waktu yg m-jelaskan perih juga senyum Bugis-Mksr. coretan ini kemana saja kau bebas membuangnya tapi… sebelumnya ajarilah anak2mu mengenal bahasa Ibunya.......maaf menandaimu selessureng matinro ri toppo galung.

.........Di kisahkan di dalam lontara ketika seorang hendak mengembara tuk bersikeras mencari kehidupan di tempat lain (dapat juga bertujuan mengembangkan keturunan) maka terlahirlah amanat atau pappaseng yang disampaikan oleh ayahanda sang pangeran tsb, sekaitan dengan kriteria tanah/ tempat yg baik dgn istilah anennungeng risompereng (jiwa pencari atau perantau) sungguh sebuah uraian yg sarat akan makna.dalam teks matinro ritoppo galung, berkononotasi sebagai tempat yang baik mempunyai pedataran yang luas, dengan tersedianya wanua pulise babuwa, atau terdapatnya tempat yang dapat dijadikan areal persawahan untuk ketersediaan pangan yang dapat di jadikan lumbung padi, keinginan ini erat kaitannya dengan pelaksanaan tradisi maddengka ase lolo atau menumbuk padi sebagai bentuk kesyukuran kepada allah swt atas limpahan hasil sawah tsb….dst ----posting Ibrahim L dg Tata 
Oleh: Maros Budaya Pappaseng

"pada dasarnya manusia menghargai hidup dan kehidupan ini (Bugis-makassar),......tidak lain atas dasar budaya yang mereka junjung sampai detik ini.hal ini dapat kita lihat betapa keras mereka memaknai persoalan SIRI na PACCE hingga sebesar apapun rintangan dan tantangan di samudera,mereka tetap mengarunginya dengan semboyan KUCAMPA'NA SOMBALAKKU NA KUGUNCIRI GULLIKKU KU ALLENA TALLANG NA TOALIA. @post.....pucuk semi.

*Pulau itu bernama Balang Caddi_
oleh Sang Baco pada 26 November 2010 jam 15:02
........dunia yang sibuk dengan berbagai hiruk pikuknya, sebuah ruang lengang, yang mengajak kita untuk keluar sejenak dari rutinitas dunia. tempat itu bernama pulau balang caddi, konon penghuni pertama pulau tersebut terkenal sebagai raja1 Balang Caddi yg terkubur di dekat pemakaman raja-raja Tallo. penamaan balang caddi sebagai sara' (prasangka baik) bermaksud terhindar atau tersamarkan dari pandangan para bajak laut pawella (perampok), kata balang caddi (konotasi>tempat genangan lumpur yg kecil) sebagai ampe2 (harapan) untuk hidup sederhana demi keselamatan dan lindungan......dst