skip to main | skip to sidebar

Tuesday, November 8, 2011

Kaidah Sastra ke Budaya

Tradisi adalah rumah kita sesungguhnya, rumah yang tak muncul hanya karena kita menyembunyikannya di balik berbagai rumah kaca, padahal tradisi adalah rumah susun dari kristal kearifan. , menantang kita mengasahnya.

-------------------------------- 

catatan "LEPASS"

*Kebudayaan nasional tidak dapat dipandang sebagai rumah kebudayaan tunggal yang mengingkari keanekaragaman, tetapi justru sebaiknya dipahami sebagai sebaran dari sekian banyak rumah budaya kecil yang kemudian membentuk sinerji sosial dan mempunyai pengaruh besar terhadap proses-proses penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Keanekaragaman juga termasuk di dalamnya bahasa dan aksara yang dipakai dalam naskah, termasuk juga bentuk, isi serta pengaruh asing yang masuk ke dalamnya

*mengangkat nilai-nilai sosial budaya daerah yang luhur serta menyerap nilai-nilai dari luar yang positif , juga diperlukan dalam proses pembaharuan ke pembangunan bangsa. sunting dari cat.pinggir > www.Maros Budaya Pappaseng.blogspot.com

*Sirtjo Koolhof, peneliti Sureq Galigo "sastra lisan Bugis Makassar, terdapat Pemakaian bahasa literer yang khusus, metrum, penggunaan sejumlah rumus komposisi, sistem formulaik dan paralelisme. terdapat unsur-unsur yang ada dalam kecerdasan linguistik yang menunjukkan adanya sejenis kecerdasan linguistik yang memungkinkan terbentuknya sebuah komposisi sastra yang epik.

*Senilah yang paling sanggup menyuarakan pengalaman itu dengan lebih langsung, menyeluruh dan lengkap. ekspresi seni, apa pun bentuk dan gayanya, adalah total, sekaligus dan tanpa sisa. dan sekaitan dengan kehidupan, budaya menemukan pada seni alat ekspresinya yang paling tepat dan utuh. karena itu tidaklah jauh dari kebenaran, hingga muncul identifikasi budaya dan seni.

*Fenomena anak usia sekolah yang senang dengan budaya asing >pengidolaan pada tokoh dlm film (shin chank, dora emon, naruto superman dll), Tanpa sadar meluaskan dimiskinkan oleh aneka tontonan dan tayangan yang mencerminkan budaya orang lain, semoga menjadikan kewaspadaan untuk mengangkat dan melestarikan budaya lokal agar menjadi bagian integratif dalam pemelajaran lokal di sekolah.

TAPI........*para seniman, termasuk pelukis, pematung, dan pemusik, tidak pernah mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan menggunakan kata-kata. Sebaliknya bagi mereka kata-kata adalah sesuatu yang sifatnya reduktif, karena menyempitkan makna di dalam rumusan yang tidak dinamis.

0 comments:

Post a Comment